20Apr2026

ingin mendukung WKCP? jadilah relawan atau berdonasi.

Hari cp sedunia

Kebahagiaan dalam Fashion Show: Cerita Sukses Perayaan Hari Cerebral Palsy Sedunia 2023

Dalam keberhasilan penuh semangat, perayaan Hari Cerebral Palsy Sedunia tidak hanya merenungkan kesuksesan acara tetapi juga semangat ketahanan yang mendefinisikan komunitas kami. Meskipun menghadapi hambatan teknis berupa masalah audio selama siaran langsung, tekad kolektif kami memenangkan segalanya, mengubah hambatan potensial menjadi momen pemecahan masalah, dan pada akhirnya, menjadi perayaan yang dipenuhi kebahagiaan.

Fashion show, keberagaman, dan inklusivitas, berfungsi sebagai mercusuar kebahagiaan pada Hari Cerebral Palsy Sedunia. Para model, masing-masing dengan cerita dan perjalanan unik mereka, menciptakan kekuatan dan keindahan. Salah satu aspek paling menggembirakan dari acara ini adalah berkumpulnya orang tua, menempuh jarak untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan pada kesempatan tersebut. Wajah bersinar, kebahagiaan, dan kebersamaan di antara orang tua, banyak yang bertemu untuk pertama kalinya, mencerminkan rasa komunitas yang mendefinisikan advokasi kami.

foto bersama seluruh audiens

Kebahagiaan yang memancar dari wajah orang tua itu adalah pertemuan jiwa sejati, bersatu oleh tujuan bersama. Keberhasilan perayaan ini tidak hanya meninggalkan kesan yang abadi tetapi telah menetapkan panggung untuk pertemuan di masa depan, masing-masing menjanjikan menjadi saksi pertumbuhan komunitas kami dan jangkauan advokasi kami yang semakin meluas.

Perjalanan advokasi memang merupakan perjalanan yang panjang, ditandai oleh tantangan dan kemenangan sekaligus. Setiap peserta, baik model maupun penonton, memainkan peran penting untuk membuat perayaan ini sukses, menggambarkan kekuatan persatuan dalam upaya kita menuju dunia yang lebih inklusif.

Hari Cerebral Palsy Sedunia bukan hanya sebuah hari di kalender; itu adalah afirmasi komitmen kami terhadap advokasi. Jutaan alasan untuk melanjutkan perjalanan ini bergema dalam senyuman bersama, hubungan yang terbentuk, dan tekad bersama untuk meruntuhkan batasan. Keberhasilan perayaan kami tidak hanya diukur dalam pelaksanaan tanpa cela tetapi dalam semangat yang tak terkalahkan yang mendefinisikan komunitas kami.

Selamat Hari Cerebral Palsy Sedunia – sebuah perayaan kemenangan atas tantangan, saksi persatuan dalam keberagaman, dan pernyataan gemuruh bahwa perjalanan advokasi kita adalah perjalanan yang abadi. Saat kami bersenang-senang dalam kesuksesan acara tahun ini, kami melihat ke depan dengan antisipasi, mengetahui bahwa dengan setiap langkah, kami berkontribusi pada dunia yang merangkul dan merayakan setiap individu, tanpa memandang perbedaan.

Peningkatan kapasitas

DAFTAR PERILAKU SENSORIK

WKCP bekerjasama dengan mahasiswa Master Terapi Okupasi dari Universitas Sydney semenjak 23 February sampai 26 May 2023. Mereka melakukan magang secara online dan infografik yang berjudul daftar perilaku sensorik adalah salah satu hasil magang mereka di WKCP. 

Infografik ini tersedia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, silakan klik dokumen berikut:

Deliverable-1c-Sensory-Processing-Checklist

Semoga bermanfaat.

Catatan:

Sumber daya ini dibuat oleh mahasiswa Master Terapi Okupasi bekerja sama dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) sebagai bagian dari proyek universitas. Semua informasi dalam sumber daya ini dikumpulkan dari penelitian berbasis bukti, bukan keahlian klinis dan/atau nasihat. Mohon untuk tidak menganggap sumber daya ini sebagai saran medis. Silakan cari bantuan dari dokter dan profesional kesehatan yang berkualifikasi untuk menangani setiap kekhawatiran Anda.

This resource was created by Master of Occupational Therapy students in collaboration with
Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) as part of a university project. All information in this
resource was gathered from evidence-based research, and not clinical expertise and/or advice.
Please do not treat this resource as medical advice. Do seek help from qualified doctors and health
professionals to address any of your concerns

 

Peningkatan kapasitas

Cerebral Palsy & Epilepsi

WKCP bekerjasama dengan mahasiswa Master Terapi Okupasi dari Universitas Sydney semenjak 23 February sampai 26 May 2023. Mereka melakukan magang secara online dan infografik yang berjudul cerebral palsy dan epilepsi adalah salah satu hasil magang mereka di WKCP. 

Dalam Bahasa Indonesa:

Deliverable-1a-Epilepsy-Infographic

Dalam Bahasa Inggris:

Deliverable-1a-Epilepsy-Infographic-English

Semoga bermanfaat.

Catatan:

Sumber daya ini dibuat oleh mahasiswa Master Terapi Okupasi bekerja sama dengan Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) sebagai bagian dari proyek universitas. Semua informasi dalam sumber daya ini dikumpulkan dari penelitian berbasis bukti, bukan keahlian klinis dan/atau nasihat. Mohon untuk tidak menganggap sumber daya ini sebagai saran medis. Silakan cari bantuan dari dokter dan profesional kesehatan yang berkualifikasi untuk menangani setiap kekhawatiran Anda.

This resource was created by Master of Occupational Therapy students in collaboration with
Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) as part of a university project. All information in this
resource was gathered from evidence-based research, and not clinical expertise and/or advice.
Please do not treat this resource as medical advice. Do seek help from qualified doctors and health
professionals to address any of your concerns

Hari cp sedunia

Style with a smile: Celebrating World Cerebral Palsy Day 2023

Selamat datang di komunitas kami, tempat di mana kita semua bersatu dalam perjuangan dan cinta untuk anak-anak kita yang memiliki cerebral palsy (CP). Hari ini, kami ingin berbicara tentang acara fashion show istimewa yang akan menjadi sorotan pada Oktober 2023 untuk merayakan Hari Cerebral Palsy Sedunia. Ini adalah momen penting yang kami nantikan bersama, di mana kita aka n menunjukkan bahwa keindahan dapat ditemukan dalam keunikan setiap individu, termasuk mereka yang dengan cerebral palsy.

seorang penyandang cerebral palsy perempuan berusia dewasa sedang diukur oleh fashion desainer

Dalam merayakan Hari Cerebral Palsy Sedunia, Komunitas Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) telah bersiap untuk menghadirkan sebuah acara fashion show yang luar biasa. Acara ini bukan hanya tentang mode, tetapi juga tentang memberikan inspirasi dan harapan kepada semua yang hidup dengan CP. Apa yang membuat acara ini begitu istimewa? Semuanya dimulai dengan persiapan yang cermat. Para model, termasuk anak-anak dan orang dewasa dengan cerebral palsy, telah diukur oleh desainer busana agar busana yang mereka kenakan sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa semua peserta merasa nyaman dan percaya diri saat berjalan di atas panggung.

seorang anak perempuan penyandang cerebral palsy sedang diukur badannya oleh seorang fashion desainer

Selain itu, kami juga melakukan wawancara dengan para model dan desainer fashion untuk mendengar pendapat mereka tentang acara ini. Mereka berbagi kegembiraan mereka untuk terlibat dalam misi ini, yaitu membawa senyum dengan gaya, sehingga mode menjadi hak semua orang.

seorang remaja perempuan dengan cerebral palsy sedang diukur oleh seorang fashion desainer untuk pembuatan outfit

Bagaimana Anda bisa terlibat? Pertama, kami mengundang Anda untuk bergabung dan mendukung acara ini. Anda bisa hadir sebagai penonton, mendukung anak-anak dan orang dewasa dengan cerebral palsy, serta menikmati peragaan busana yang memukau. Selain itu, Anda juga dapat membantu kami menyebarkan pesan tentang pentingnya industri fashion yang inklusif. Mode bukan hanya untuk mereka yang “tipikal”, tetapi juga untuk mereka yang memiliki keunikan dalam diri mereka. Ini adalah langkah kecil menuju menyatukan semua orang, dan kami percaya Anda dapat membantu mewujudkannya.

 

Kunjungi situs web kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang acara ini dan cara Anda dapat berpartisipasi. Mari bersama-sama membuat perbedaan dan merayakan keunikan anak-anak kita dengan cerebral palsy. Bersama, kita dapat membuktikan bahwa kecantikan sejati adalah tentang menerima diri sendiri dan orang lain dengan segenap keunikan yang dimiliki.

 

Terima kasih atas dukungan Anda, dan mari bersama-sama merayakan Hari Cerebral Palsy Sedunia 2023 dengan senyum dan gaya!

seminar/workshop

Seminar Orang Tua dan Diskusi Klinis

Buruan daftar yuk Sahabat semua, karena kita bisa belajar tentang:
* Komunikasi bukan hanya bicara, isyarat tubuh bahkan kedipan Mata merupakan bagian Dari komunikasi
*perbedaan bicara, bahasa & komunikasi
*bagaimana Cerebral palsy mempengaruhi komunikasi dan proses feeding
*apa itu disfagia
*bagaimana mengatasi kesulitan makan, minum dan menelan
*apa yang bisa kita lakukan untuk membantu penyandang disabilitas yang mengalami kesulitan bicara & komunikasi
* apa itu komunikasi, kenapa harus berkomunikasi & apa kesulitannya
**dan masih banyak bahasan topik lainnya

Memahami apa Yang mau disampaikan anak itu penting, meskipun anak belum bisa mengucapkan kata.
Jadi rugi banget lho Sahabat klo tidak segera mendaftar…. Seluruh peserta akan dapat SERTIFIKAT lho dan jangan khawatir, ada PENERJEMAH selama acara berlangsung.

Khusus untuk peserta baik Seminar Orang tua maupun Diskusi Klinis yang MELAKUKAN PEMBAYARAN PALING LAMBAT TANGGAL 15 MARET 2019, BISA MENGAJUKAN PERTANYAAN. Jadi pertanyaan bisa spesifik sesuai kebutuhan orang tua maupun tenaga medis… KARENA KETIKA ACARA WAKTU UNTUK BERTANYA TERBATAS …

Untuk memenuhi permintaan pendaftaran yang terus bertambah maka pendaftaran kami perpanjang hingga 20 maret 2019 ya sahabat..Ayo manfaatkan peluang ini untuk menambah wawasan kita untuk berkomunikasi dengan putra putri kita.. 😊

Hari cp sedunia

World CP Day di Balai Kota Yogyakarta

peserta yang hadir diperayaan hari cp sedunia sedang mendengarkan pembawa acaraSeperti tahun sebelumnya, komunitas WKCP yang concern terhadap penyandang disabilitas serebral palsi mengadakan acara dalam rangka memperingati hari serebral palsi sedunia atau World Cerebral Palsy Day (WCPD). WCPD disepakati secara internasional pada 6 Oktober. Memperingati WCPD merupakan bagian kontribusi nyata komunitas WKCP terhadap perkembangan berkelanjutan Indonesia, khususnya di bidang penyandang disabilitas serebral palsi. Acara tersebut berlangsung di Balai Kota Yogyakarta yang beralamat di jalan Timoho, Yogyakarta (15/10). Adapun tema acaranya yaitu “Public Awareness of Cerebral Palsy”, dengan tujuan mensosialisasikan pengetahuan mengenai serebral palsi pada masyarakat umum serta memupuk rasa percaya diri pada penyandang disabilitas serebral palsi di lingkungan masyarakat. Adapun peserta WCPD yaitu 72 orang yang terdiri dari penyandang serebral palsi dan orangtuanya, serta masyarakat umum dari berbagai daerah.

Acara berlangsung cukup meriah. Kemeriahan dapat dirasakan pada saat serangkaian acara berlangsung. Rangkaian acara tersebut yaitu sambutan, lomba, dan pembagian hadiah. Sambutan diberikan kepada ketua panitia (Dian Ayu Puspitaningrum) dan ketua komunitas (Anis Sri Lestari). Lomba yang diadakan yaitu lomba menghias batu dan menghias tas kain dengan melibatkan penyandang serebral palsi yang didampingi oleh keluarganya. Hasilnya pun dinilai oleh panitia dan setelahnya dibawa pulang oleh peserta. Kegiatan diakhiri dengan pembagian hadiah dari kejuaran lomba. Selain itu, panitia juga menampilkan hiburan pada awal acara dan membagikan doorprize di sela-sela acara. Panitia WCPD yang terlibat yaitu pengurus WKCP dan relawan WKCP dari alumni dan mahasiswa UNY, ISI, UNISA, UGM, UIN Sunan Kalijaga, UII, dan Akprind.

“Adanya kegiatan seperti ini (memperingati WCPD) memberikan motivasi dan percaya diri kepada penyandang disabilitas dalam bergaul dengan masyarakat, terutama dalam melakukan perannya sebagai makhluk sosial seperti gotong royong dan bekerja. Hal tersebut juga dapat mengurangi stigma-stigma negatif terhadap penyandang disabilitas. Oleh karena itu, peran nyata komunitas WKCP yang peduli penyandang disabilitas perlu diapresiasi karena konsisten dalam keterlibatan acara atau kegiatan yang mendukung penyandang disabilitas secara postif.” ungkap Rohmad, penyandang disabilitas yang berasal dari Bantul.

Sumber: Adi Suseno

Peningkatan kapasitasseminar/workshop

Semiloka dan Kongres Membangun Gerakan Inklusif dari Akar

foto bersama seluruh peserta seminar

Semiloka dan Kongres merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2016 tanggal 28 November sampai 3 Desember 2016. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) yang bekerjasama dengan The Asia Foundation dan Kemenko PMK di Kabupaten Jember tersebut dilaksanakan pada tanggal 29 November sampai 1 Desember 2016 dan bertempat di Auditorium IKIP PGRI Jember yang beralamat di jalan Jawa No.10 Jember.

Bersamaan dengan peringatan HDI, kegiatan tersebut diagendakan guna menindaklanjuti Undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang disahkan secara nasional pada bulan Juni 2016.  Alasan pemilihan tempat di Kabupaten Jember adalah adanya kesenjangan antara komunitas atau organisasi penyandang disabilitas dan pemerintah kabupaten terkait pelayanan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Oleh karena itu, peserta yang dilibatkan dari berbagai kalangan mulai dari penyandang disabilitas, organisasi atau komunitas, mahasiswa, tenaga kependidikan, pembuat kebijakan, dan perwakilan dari kedinasan kabupaten.

Pada hari pertama, semiloka diisi oleh narasumber dari organisasi atau komunitas yang bergerak dibidang disabilitas, yaitu dari Abdul Sakur DMI Surabaya, JBFT (Jakarta Barriers Free Tourism), Sholeh Muhdlor SAPDA, PLJ-JBI Jakarta, WKCP Yogyakarta, Sigab, Tokoh Perempuan Disabilitas, Young Voice Indonesia, Portadin, Kerjabilitas, dan Asrorul Mais dari IKIP PGRI Jember. Setiap narasumber diberikan kesempatan untuk menceritakan visi-misi organisasi atau komunitasnya, cara mencapainya, program kerjanya, keterlibatan orang luar, dan hasil atau output yang sudah dicapainya dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Pada hari kedua, narasumber yang mengisi semiloka yaitu Bupati Jember, BAPPENAS (Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial), Kementerian Sosial RI, Kementerian Desa, SAPDA, Yayasan Bahtera (Sumba), advokasi identitas legal bagi kelompok rentan (Lakpesdam NU), Perbaikan layanan sebagai bagian dari pemenuhan hak warga / kelompok rentan (IKA), Perjuangan Menghapus stigma dan menghadirkan penerimaan sosial bagi kelompok rentan (SAMIN), Pemberdayaan ekonomi kelompok rentan: (Kemitraan). Dan pada hari ketiga yaitu menindaklanjuti hasil dari hari pertama dan kedua dengan membagi peserta menjadi 8 komisi yang membahas 8 sektor kehidupan dasar penyandang disabilitas, yaitu sekor kesehatan, pendidikan, ekonomi, aksesibilitas, hukum, sosial, perumahan, dan … hasil dari siding komisi tersebut nantinya dirumuskan bersama dan dipresentasikan serta dijadikan naskah deklarasi kongres disabilitas yang dibacakan secara bersama dari perwakilan disabilitas, organisasi masyarakat sipil dan pembuat kebijakan untuk menyuarakan gerakan  inklusi sosial.

Adapun hasil naskah deklarasi dari gerakan bersama Indonesia inklusif di atas adalah sebagai berikut:

  1. Latar Belakang Konggres (Cerita tentang Konggres)
  2. Menyatakan dan menyerukan hal hal sebagai berikut:
  • Percepatan implementasi UU no 8 tahun 2016 di tingkat pusat dan daerah
  • Harmonisasi peraturan perundang undangan sesuai dengan UU no 8 tahun 2016
  • Penguatan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas baik sebagai tenaga kerja maupun pelaku ekonomi mandiri
  • Penyediaan/terwujudnya Layanan kesehatan yang aksesibel dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan keragaman penyandang disabilitas
  • Penguatan system basis data penyandang disabilitas yang akurat mulai dari tingkat desa/kelurahan
  • Mewujudkan dan mengembangkan inovasi teknologi informasi yang aksesibel bagi penyandang disabilitas
  • Pengelolaan dan Pengembangan system, moda, sarana dan prasarana transportasi public dan transportasi pribadi yang aksesibel bagi penyandang disabilitas.
  • Merealisasikan kemudahan untuk mendapatkan dan atau memiliki tempat tinggal yang aksesibel bagi penyandang disabilitas
  • Percepatan penyelenggaraan system pendidikan inklusif dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi
  • Terjamin dan terlindunginya seluruh hak penyandang disabilitas melalui penegakan hukum yang adil dan setara

 

Sumber: Adi Suseno

Hari cp sedunia

Kemeriahan Hari Cerebral Palsy Sedunia

salah satu peserta talkshow bertanya kepada narasumberSetiap Rabu pertama di bulan Oktober, diperingati Hari Cerebral Palsy Sedunia (World CP Day). Peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia ini adalah sebuah gerakan dari penyandang Cerebral Palsy dan keluarga dan juga berbagai organisasi yang mendukung di lebih dari 50 negara, termasuk Indonesia.

Visi dari gerakan ini adalah untuk memastikan dan memperlihatkan bahwa anak dan remaja/dewasa penyandang Cerebral Palsy memiliki hak, akses dan kesempatan yang sama seperti masyarakat pada umumnya dalam melangsungkan kehidupan sehari – hari. Dalam pergerakannya melibatkan semua anggota dimulai dari keluarga, pengasuh serta penyandang Cerebal Palsy tersebut.

Oleh karena itu, Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) sebagai Komunitas yang terdiri dari orang tua yang memiliki anak penyandang Cerebral Palsy, penyandang Cerebral Palsy dan berbagai stakeholder yang peduli dengan Cerebral Palsy, akan memeriahkan peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia ini.

Salah satu tema yang diangkat dalam gerakan Peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia ini adalah Peningkatan Kualitas Hidup bagi penyandang Cerebal Palsy. Ini menjelaskan bagaimana membantu orang untuk berkembang secara luas dan mandiri agar menemukan kenikmatan dan kepuasan dalam hidup yang dimiliki setiap indvidunya serta untuk meraih kesempatan yang lebih baik kembali.

Peningkatan Kualitas Hidup bagi penyandang Cerebral Palsy tentu saja tidak hanya berkaitan dengan akses pada bidang kesehatan, terapi, namun juga dibidang sosial. Dari ketiga hal tersebut merupakan bagian yang sangat penting dalam membantu penyandang Cerebral Palsy untuk menigkatkan kualitas hidup.

Namun Cerebral Palsy bukan hanya realitas yang berakibat pada penyandang Cerebral Palsy saja, namun juga bagi keluarga dan pengasuh. Akses terhadap peralatan ataupun keperluan hidup sehari-hari masih mengalami hambatan. Akses untuk mendapatkan informasi dalam jangkauan yang luas, misalnya pekerjaan yang aksesibel untuk penyandang Cerebral Palsy pun masih sangat terhambat. Oleh karena itu diperlukan akses untuk mendukung hal tersebut, agar penyandang Cerebral Palsy, keluarga dan masyarakat saling mendukung sehingga penyandang Cerebral Palsy bisa memperoleh peningkatan kualitas hidup baik dibidang sosial, ekonomi, pendidikan maupun kehidupan pribadi.

salah satu anak naik ke panggung untuk menunjukan hasil operasi yang telah dilakukanOleh karena itu, pemahaman tentang berbagai faktor yang dapat membantu penyandang Cerebral Palsy sangatlah penting. Salah satunya adalah pemahaman tentang Peran Bedah Orthopedi untuk Kasus Cerebral Palsy. Tema itulah yang akan dibicarakan di Peringatan Hari Cerebal Palsy Sedunia yang diselenggarakan oleh Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) yang didukung oleh Manajemen Jogja City Mall. Akan dilaksanakan oleh WKCP pada Hari Minggu, tanggal 23 Oktober 2016, Pukul 10.00 di Hall Upper Ground Jogja City Mall dengan menghadirkan Pembicara Talkshow Bapak dr. Anung Budi Satriadi, SpOT (K), seorang dokter orthopedi pediatrik di Rumah Sakit Orthopedi Prof.DR.R. Soeharso Surakarta dan dimoderatori oleh Bapak Dr. Bambang Trisnowiyanto, S.Pd.,SKM., M.Or. Kemudian dilanjutkan dengan Launching WKCP Youth yang diwakili oleh Safrina Rovasita, M.Pd., seorng guru dan juga penyandang Cerebral Palsy.

seminar/workshop

DISKUSI ASPIRASI: TRANSPORTASI

Mobilitas berpengaruh dengan tingkat kesejahteraan hidup manusia, semakin tinggi tingkat mobilitas semakin mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, semakin terhambat semakin rendah tingkat kesejahteraannya. Namun, realita yang terjadi pada penyandang disabilitas yang mempunyai keterbatasan tertentu dalam mobilitas dan komunikasi adalah kondisi lingkungan di sekitarnya tidak akses bagi mereka. Yang mereka butuhkan adalah positif diskriminasi, yaitu penyediaan akses khusus yang membantu mereka dalam hambatan dan mobilitas.

Dengan mengusung perihal tersebut, Komite Disabilitas DIY mengadakan diskusi aspirasi dengan tema transportasi. Transportasi berkaitan dengan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas yang secara hukum mempunyai hak yang sama. Diskusi aspirasi tersebut berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2016 mulai pukul 10.00 sampai 13.00 WIB bertempat di Kantor Komite Disabilitas DIY yang beralamat di Gang Lurik Jalan Kingkin No.1 RT 08 Nitipuran Ngestiharjo, Jalan Wates KM 2,5 Yogyakarta. Peserta merupakan perwakilan dari komunitas yang bergerak di bidang disabilitas di daerah Yogyakarta, yaitu Difa Ojeg, SAPDA, Yakkum, Sigab, Ciqal, DMC, WKCP, DTLS, DAC, Karinakas, PPDI, HWDI, ITMI, Pertuni, dan Gerkatin.

Masukan dari penyandang tunarungu terkait dengan transportasi yaitu terkait dengan sarana dan prasarana yaitu perlu adanya visual aids berupa tanda atau rambu tertentu seperti tanda toilet untuk laki-laki dan perempuan, tanda arah ke tempat mushola, dan tanda area parkir. Visual aids berupa tanda akan lebih mudah diakses daripada tulisan. Hal tersebut karena mayoritas penyandang tunarungu tidak bisa membaca tulisan. Selain itu, hambatan dalam berkomunikasi juga menjadi salah satu hal perlu diperhatikan bahwa sebagian besar tunarungu mengalami kesulitan dalam bertanya dengan menggunakan bahasa insyarat atau bahasa oral pada masyarakat umum.

Salah satu syarat untuk mengendarai kendaraan adalah harus mempunyai SIM. Bagi penyandang tunarungu, untuk mendapatkan SIM merupakan hal yang cukup sulit didapat. Hal tersebut dikarenakan salah satu syaratnya adalah ujian tulis. Ujian tulis melibatkan kemampuan akademik baca, tulis, dan hitung (calistung), tetapi sebagian besar penyandang tunarungu tidak mampu calistung. Oleh karena itu, masukan dari penyandang tunarungu kepada pemerintah adalah sebaiknya ujian tulis SIM bagi mereka bisa diganti dengan ujian praktek atau ujian visual.

Melakukan mobilitas merupakan suatu aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya secara mandiri, terutama bagi penyandang tunanetra yang hanya bisa mengandalkan jasa transportasi. Untuk mengakses jasa transportasi tidaklah mudah bagi mereka. Oleh karena itu, beberapa masukan dari penyandang disabilitas terkait hal tersebut dan sarananya, yaitu dengan tergantinya kendaraan umum dengan bus trans daerah, jumlah kendaraan umum semakin sedikit. Padahal, kendaraan umum dapat terakses di tempat manapun, sedangkan bus trans daerah hanya bisa diakses dengan menuju halte terdekat yang jarang ditemukan di daerah pinggiran. Selain itu, jarak tempuh yang dibutuhkan juga lebih lama karena sebagian besar bus trans daerah tidak langsung ke tempat tujuan melainkan menuju tempat-tempat lain. Kesadaran pengemudi dan kondektur bus trans daerah tersebut juga perlu diperhatikan karena ada beberapa kejadian yang berbahaya bagi pendanyang tunanetra. Kejadian tersebut yaitu ketika bus akan transit ke halte, pintu bus tidak dekat dengan halte, sehingga penyandang tunanetra jatuh terperosok ke bawah. Terlepas dari transportasi umum, penyandang tunanetra bisa menggunakan jasa transportasi pribadi seperti ojeg dan taksi, namun biaya yang dikeluarkan oleh penyandang tunanetra tidak sedikit.

Terkait penyandang tunanetra, lampu lalu lintas perlu dimodifikasi dengan pengeras suara agar penyebrang tunanetra dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam menyebrang. Hal tersebut perlu dlakukan karena hanya dengan mengacungkan tongkat melawat saja kurang efektif. Hal ini juga tidak lepas dari banyaknya pengendara motor yang ugal-ugalan. Terkait hal tersebut, teman penulis yang mengalami tunanetra juga mempunyai cerita terkait kisah pribadinya. Di area kampus, teman tersebut menyebrang dengan mengacungkan tongkat melawat tetapi ada saja mobil yang tetap menerjang dan menabraknya, alhasil sedikit luka lecet karena tabrakan tidak bisa dihindari.

 Pelayanan transportasi memang penting, khususnya bagi penyandang disabilitas yang notabene memerlukan perlakuan khusus. Perlakuan khusus tersebut bukan semata-mata mendeskriminasikan secara negatif bagi mereka, melainkan mendeskriminasikan secara positif agar hak untuk mendapatkan pelayanan umum setara dengan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, masukan terkait pelayanan umum adalah perlunya tata cara pelayanan tersebut diatur dengan melibatkan penyandang disabilitas sehingga pegawai atau penyedia jasa dapat melayani penyandang disabilitas dan perlu adanya wawasan mengenai penyandang disabilitas sebagai syarat dalam membuat SIM agar pelayanan bisa lebih baik. Hal tersebut juga perlu didukung oleh pemerintah dengan mengadakan sosialisasi dan pelatihan bagi pegawai atau penyedia jasa transportasi umum.

Sumber: Adi Suseno

Rapat WKCP

RAPAT KERJA WAHANA KELUARGA CEREBRAL PALSY (WKCP) YOGYAKARTA

seluruh pengurus dan relawan berfoto

WKCP merupakan organisasi dengan bentuk komunitas yang anggotanya terdiri dari orang tua yang memiliki anak cerebral palsy, penyandang cerebral palsy, masyarakat profesi, dan masyarakat umum yang peduli dan bergelut dengan cerebral palsy di Yogyakarta. WKCP didirikan pada bulan Maret tahun 2012 atas prakarsa beberapa orang tua anak cerebral palsy dengan akte notaris nomer 1 tanggal 12 Desember 2012 dan notaris Windri Astuti Wismi Suprihatin, S.H.

Pada hari Sabtu dan Minggu, 01 dan 02 Oktober 2016, WKCP mengadakan Rapat Kerja di Hotel Galuh yang beralamat di Jalan Manisrenggo Km 1 Prambanan Klaten. Rapat Kerja dihadiri oleh dewan penasehat (Prof. Sunartini), pengurus WKCP, dan volunteer yang totalnya berjumlah sekitar 45 peserta. Adapun acara pada hari pertama yaitu sambuta-sambutan, penjelasan secara umum mengenai WKCP (termasuk visi, misi, program, dan relawan), pendanaan, diskusi per komisi, presentasi hasil diskusi, sedangkan acara hari kedua yaitu pembacaan hasil diskusi rapat kerja, persentasi persiapan acara World CP Day oleh relawan, doa, dan foto bersama.

Pada hari pertama, acara diawali dengan sambutan dari dewan penasehat, ketua WKCP, dan dilanjutkan diskusi rapat kerja.  Diskusi Rapat Kerja WKCP membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) yang berisi pasal-pasal dan ayat-ayat yang mengatur tentang penjelasan umum, kepengurusan, dewan penasehat, keanggotaan, musyawarah besar dan rapat-rapat, dan keuangan.  Selain itu, seluruh peserta dibagi menjadi 6 komisi diantaranya komisi organisasi, pendanaan, teknilogi informasi, pendidikan dan pelatihan, relawan, dan WKCP Youth. Acara pada hari pertama yang berlangsung pada sabtu siang sampai sabtu malam ditutup dengan diskusi hasil rapat kerja per komisi. Sedangkan hari kedua, acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil diskusi rapat kerja dan diteruskan dengan presentasi persiapan World CP Day oleh relawan, serta foto bersama.

Sumber : Adi Suseno