
Setelah menguras tenaga beberapa bulan yang lalu, tepatnya sekitar 4 bulan, relawan WKCP mendapat hadiah dari pengurus WKCP, hadiahnya adalah liburan. Liburannya yaitu menjajah dataran tinggi Dieng. Rencana yang dikoordinasi oleh Bu Anis dimaksimalkan selama 24 jam, yuk intip rencana perjalanan WKCP goes to Dieng Plateau.
Keberangkatan disusun mulai pada malam hari, Sabtu malam jam 23.30 WIB dengan titik kumpul di sekretariat WKCP, estimasi jam 04.00 WIB sudah sampai di Sikunir, tempat dimana golden sunrise bisa disaksikan, jam 04.30 WIB naik ke puncak dan waktu maksimal di Sikunir adalah jam 06.30 WIB. Kemudian lanjut buat sarapan di sekitar Dieng dengan waktu maksimal 07.30 WIB dan lanjut ke tempat wisata Kawah Sikidang sampai jam 09.00 WIB, dan jam 09.00 – 11.00 WIB adalah waktu untuk menghabiskan waktu di Candi Arjuna. Selanjutnya, Telaga Warna adalah tujuan wisata terakhir dari perjalanan kami di Dieng dari jam 11.00 – 13.00 WIB. Dan sebelum pulang, kami pun berencana mampir di tempat oleh-oleh dan makan siang bersama. Itulah rencana dari perjalanan kami selama di Dieng.

Lanjut ke realitanya, perjalanan dimulai pada hari Jumat malam (14 Mei 2016), perjalanan kali ini memang tidak dikhususkan bagi relawan WKCP, namun juga beberapa dari pengurus andil dalam kesempatannya. Relawan yang ikut adalah laki-laki: Mas Rohmad, Mas Bagus, Mas Andika, Zain, Arif, Widodo, Hasbi, dan Adi; dan perempuan: Isti, Nur, Yuni, Sisca, Gista, Angel, Ninda, Fanisa, Rakhma, Mesya, dan Dewi. Sementara pengurus yang ikut adalah Bu Anis, Pak Bambang, Sihab, Bu Reny, Pak Yudho, Adnan, Bu Sari, Aisyah, Bu Nina dan anaknya. Terbagi menjadi dua bis kecil, bis pertama diisi oleh para pengurus ditambah Hasbi, Widodo, Mas Rohmad, dan Mas Andika, dan bis kedua diisi oleh para relawan.
Keberangkatan pun dimulai jam 23.30 WIB, tak ada yang tertinggal, persiapan sudah maksimal, dan berangkat. Perjalanan melalui kota Magelang, Temanggung, dan Wonosobo. Namun, ditengah perjalanan bis 2 mengalami sedikit gangguan, seluruh penumpang bis 2 terpaksa harus turun dan menunggu sebentar di tengah jalan dan dinginnya malam Wonosobo. Setelah melalui halangan dan rintangan akhirnya rombongan sampai di ujung Sikunir, walaupun agak telat sekitar pukul 05.00 WIB sampai di tempat parkir, kami tetap bergegas mendaki ke atas demi golden sunrise, dengan perjalanan yang cukup ramai karena bertepatan hari libur, kami pun melewati satu demi satu manusia di tengah dinginnya pagi hari. Akhirnya sampai di puncak sikunir, dan kami pun mencari spot yang bagus untuk menyaksikan golden sunrise merangkak. Di puncak, banyak penjual yang menjajakan aneka makanan dan minuman, dan fasilitas umum pun sudah tersedia seperti toilet dan mushola.
Tujuan selanjutnya seharusnya ke kawah Sikidang (Sikidang Creater), namun karena cuaca hujan, pas pagi, menambah dinginnya suhu di sekitar Dieng, dan akhirnya dengan keputusan yang berat kami pun membatalkan kunjungan ke kawah Sikidang. Lanjut ke jadwal selanjutnya yaitu sarapan, sarapan kali ini adalah nasi goreng dengan tempe goreng ala penduduk Dieng, dan ditemani teh panas yang berasap, namun karena dinginnya suhu di Dieng, teh panas pun terasa seperti teh hangat biasa, serius loh.
Yap, saatnya lanjut ke Candi nih. Ditemani kabut yang masih menguasai kota Dieng, kami pun melanjutkan perjalanan ke Candi, tanpa berpikir waktu yang ditentukan, kami tebas dinginnya pagi hari di Dieng. Candi pun didapatkan, namun beberapa candi utama sedang dalam proses rekonstruksi. Berputar dan berputar layaknya kipas angin, akhirnya kita mengakhiri kisah kita di Candi, dan lanjut ke tempat yang spesial yaitu Telaga Warna (Colour Lake).
Telaga Warna merupakan salah satu tempat wisata yang tidak merugikan kalo dikunjungi, pemandangan untuk foto-foto cukup bagus, apalagi ditambah airnya yang berwarna kehijauan karena efek belerang. Cukuplah untuk mengambil banyak foto di beberapa spot tertentu, dan cukup melelahkan bagi kami yang hampir menjelajah setengah luas Telaga Warna tersebut. Dengan rasa lelah yang membahana, kami pun bergegas undur dari tempat tersebut.
Tempat yang dikunjungi selanjutnya adalah bukan tempat wisata biasa, tapi ….. (ayo tebak, apakah tempat selanjutnya yang akan dikunjungi?) tam.. tam… tam…. yaitu toko oleh-oleh biasa, ya memang biasa, dimana-mana toko pasti menjual barang dagangannya yang hampir sama, jenis dan mereknya. Akhirnya, beberapa dari kami sudah puas membeli barang dagangannya, ya itung-itung mencintai produk lokal. Walau biaya agak mahal, yang penting halal, dan masuk akal. Intinya dari perputaran ekonomi lokal adalah adanya kesempatan warga lokal dalam mendapatkan pekerjaan dan menjadikannya profesi yang positif, artinya semakin kecil tingkat penggangguran maka semakin kecil pula tingkat kriminalitas dari segi ekonomi. Langsung tancap ke tempat berikut yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu tempat makan siang, it’s time to lunch guys. Kali ini spesial nih, buat relawan yang ngaku anak kos-kosan, inilah kesempatannya buat makan prasmanan sepuasnya. Huhuhu….. Persediaan lemak pun sudah diisi, saatnya untuk persiapan pulang, yah, pulang. Perjalanan pulang dimulai sekitar jam 17.00 WIB, dan sampailah kami di sekretariat WKCP jam 22.00 WIB. Perjalanan yang melelahkan dan menguras tenaga, tetapi banyak manfaat yang bisa kita ambil.
Sumber: Adi Suseno





