
Setelah libur ramadhan selama satu bulan, WKCP hadir kembali dengan mengadakan kegiatan “Temu Kangen WKCP”. Pelaksanaannya berlangsung pada hari Minggu, 14 Agustus 2016 dan bertempat di Lobby DPRD Kota Yogyakarta yang beralamat di jalan Timoho, Kota Yogyakarta. Peserta yang hadir merupakan anggota, pengurus, dan relawan WKCP, selain itu juga ada beberapa orang tua yang mempunyai anak CP tapi belum tergabung sebagai anggota WKCP. Jumah anggota WKCP yang hadir mencapai 62 orang. Dengan jumlah tersebut, tentunya Lobby DPRD Kota Yogyakarta sangat penuh dengan kesempatan untuk berbagi pengalaman.
Acara pada temu kangen WKCP ini meliputi pembukaan, sambutan, acara inti, pemutaran video dokumenter, dan penutup. Pembukaan dibuka oleh MC dari relawan WKCP dengan pembacaan doa pembuka, selanjutnya sambutan dari pengurus WKCP. Acara inti dalam kegiatan ini yaitu pengurus dan relawan menyampaikan tujuannya dalam halal bihalal dan silaturahmi dengan peserta WKCP, pengurus juga menyampaikan laporan penggunaan dana dan rencana program WKCP yang akan datang yaitu program NDT, pelatihan hidroterapi bagi orang tua, World CP Day, dan kemungkinan akan ada program bersama University of Sydney terkait dengan pengalaman orang tua terkait mengasuh anak. Selanjutnya, pemutaran video terkait dengan penyandang CP yang berprestasi, pada sesi ini ada beberapa penyandang CP seperti Habibie Afsyah, Fajar, dan Safrina Rovasita. Tidak hanya dari Indonesia saja, ada penyandang CP dari luar Indonesia yang bisa mendulang kesuksesannya seperti Rick Hohn dan Dick Hoyt. Adapun profil singkat dari mereka adalah sebagai berikut:
Habibie Afsyah
Habibie Afsyah adalah seseorang pria sederhana yang lahir di Jakarta pada tanggal 6 Januari 1988. Habibie merupakan penyandang muscular dystrophy. Muscular dystrophy tersebut secara perlahan-lahan mempengaruhi fungsi motorik tubuh sehingga Habibie tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Hal tersebut tidak mematahkan semangat Habibie dan orang tuanya. Setelah lulus dari SMA, ibunya mulai mengajak Habibie untuk mengikuti kursus internet marketing tingkat dasar. Kemudian ibunya mengikutkan Habibie dalam kursus lebih lanjut di Singapura dengan mengorbankan mobil orangtuanya. Kasih sayang dan perhatian seorang ibu tersebut menjadi kekuatan berharga yang mendukung kemajuan Habibie di dunia online marketing. Sejak terjun dalam dunia bisnis internet marketing pada tahun 2007, Habibie menjadi salah satu orang Indonesia yang berhasil meraup penghasilan hingga ratusan juta rupiah.
Fajar
Semua orang tua menghendaki anaknya lahir dengan normal dan sehat. Namun berbeda dengan realita yang dialami oleh Heny Sulistiowati (36), saat mendapati lambannya tumbuh kembang anaknya ketika memasuki usia bulan ketiga. Fajar Abdurokhim Wahyudiono, anak bu Heny, dilahirkan 2 Oktober 2003 dengan berat lahir hanya 1,6 kilogram. Dengan kondisi tersebut Fajar harus berada di ruangan khusus (NICU), terpisah dari sang ibu. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis, ternyata Fajar mengalami cerebral palsy spastik. Tentu saja orang tua dan keluarga sangat sedih dengan kenyataan ini. Namun mereka memiliki semangat yang besar untuk mengusahakan kesembuhan dan kebaikan bagi ananda tercinta. Bukan sekedar hafal Al-Qur’an, Fajar paling suka bila diajak bermain tebak-tebakan ayat, ia bisa melanjutkan setiap penggalan ayat dan bisa menyebutkan nama surahnya. Saat ini Fajar masih menjalani fisioterapi dan belajar di sekolah umum. Prestasi akademiknya juga luar biasa walau ia belajar hanya dengan mengandalkan ingatan, karena sampai sekarang belum bisa menggenggam alat tulis.
Safrina Rovasita
Safrina Rovasita, kelahiran Yogyakarta 1 Mei 1985, yang sering dipanggil Nina tersebut telah membuktikan pada semua orang bahwa cacat fisik bukanlah halangan atau kendala baginya untuk berprestasi. Meskipun jalan yang dilaluinya tak semudah jika dibandingkan teman-teman seusianya, Nina tetap maju tanpa menghiraukan keterbatasannya. Dan semua itu tentunya juga atas dukungan orang-orang terdekatnya, khususnya orang tuanya dan juga saudara-saudaranya. Mereka memberikan kesempatan kepada Nina untuk melakukan hal-hal yang umumnya dilakukan teman sebayanya.
Seperti halnya anak seusianya, Nina pun melewati setiap jenjang pendidikannya. Dimulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan hingga perguruan tinggi. Ya, Nina mampu melampaui setiap jenjang pendidikan hampir sama dengan waktu belajar yang biasa ditempuh anak lainnya. Meski tak mudah, Nina mampu melewati fase “penggemblengan” mental tersebut. Bagaimana tidak digembleng mentalnya, jika dia biasa diejek dan dipandang sebelah mata, baik dalam berbicara maupun berjalan oleh teman-temannya.
Nina memang sosok yang pantang menyerah. Semangatnya yang tinggi dalam meraih cita-citanya sudah merupakan bukti. Meski secara fisik terlihat berbeda, tapi pemikiran Nina luar biasa. Nina tak hanya berprestasi, tapi juga mandiri. Mandiri dalam arti yang sesungguhnya. Nina telah membuktikan bahwa cantik tak hanya dilihat secara fisik. Cantik hati jauh lebih penting dari segalanya. Itulah citra cantik Indonesia yang sesungguhnya. Sampai saat ini sudah beberapa media, baik cetak maupun elektronik yang memuat kisah hidupnya yang penuh inspiratif. Seorang gadis penyandang cerebral palsy yang berhasil menaklukkan kekurangannya.
Dick Hoyt
Dick Hoyt, lahir di Massachusetts 10 Januari 1962, adalah seorang atlet marathon, atlet yang menggunakan komunikasi non-verbal dan menggunakan kursi roda. Dick Hoyt mengikuti marathon dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh ayahnya. Dick Hoyt, yang didiagnosis cerebral palsy tipe spastik quadriplegia kategori berat, mengalami hambatan dalam motorik dan tidak bisa berbicara. Orang tua hanya dapat berkomunikasi dengan anggukan untuk YA atau gelengan kepala untuk TIDAK. Pada tahun 1974, Ketua Departemen Mesin dari Universitas Tufts mengembangkan perangkat komunikasi untuk Rick. Perangkat komunikasi tersebut bekerja dengan cara mengikuti huruf yang dipilih oleh Rick. Ketika Rick menyusun kalimat dengan mengetik huruf-huruf, maka perangkat komunikasi akan mengeluarkan suara sesuai kalimat. Perangkat komunikasi tersebut memberikan kesempatan kepada Rick untuk dapat berkomunikasi dengan keluarganya dan juga berkesempatan untuk mengikuti pendidikan di sekolah. Pada saat itu, sekolah enggan menerima Rick mengikuti pelajaran di kelas regular dengan teman sebayanya. Tetapi, perangkat computer tersebut membuktikan bahwa Rick mampu belajar dan komunikasi dengan teman sebayanya.
Setelah menampilkan video dokumenter, dilanjutkan penutupan dengan pembagian doorprize dan sharing dari peserta WKCP, seperti bapak Budi dari Purworejo yang menjelaskan bahwa ini kali kedua beliau mengikuti acara WKCP, beliau mengaku sulitnya mendapatkan akses seperti WKCP di Purworejo yang notabenenya masih awam dengan anak CP, beliau juga ingin menggagas komunitas WKCP di Purworejo agar orang tua yang mempunyai anak CP dapat terfasilitasi dengan baik melalui komunitas tersebut. Beliau datang sendiri tanpa membawa anaknya karena tidak ada kendaraan untuk anaknya. Beliau berharap komunitas seperti ini ada di setiap kabupaten dan bisa membantu orang tua yang mempunyai anak CP dalam mencari informasi terkait layanan anak CP.
Oleh: Adi Suseno
Sumber:
https://www.maxmanroe.com/habibie-afsyah-penyandang-difabel-yang-sukses-di-internet-marketing.html





