Kamis, 25 Desember 2014, WKCP mengadakan pelatihan Sensori Integrasi (SI) bagi orang tua di WKCP. Kegiatan yang berlangsung meliputi materi SI dan diskusi antara orang tua dengan terapis dari Rumah Sakit Condong Catur (RSCC), yaitu Ibu Iik, kemudian disusul dengan kegiatan pelatihan bagi orang tua dalam memberikan penanganan SI kepada anaknya yang mengalami Cerebral Palsy (CP). “Sensori Integrasi (SI) merupakan latihan yang bisa dikembangkan di rumah, dan dapat dilakukan secara langsung oleh orang tua, sehingga lebih banyak waktu yang tersedia untuk selalu memberikan rangsangan atau stimulus kepada anak. Hal tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan anak menuju ke arah yang positif, tentunya untuk melakukan program tersebut perlu pendampingan terapis secara intensif.” ujar Ibu Iik.
Banyak orang tua yang mempunyai asumsi bahwa program tersebut harus dilakukan oleh yang ahli agar benar-benar terpantau, tetapi hanya mengandalkan sang ahli bukan merupakan kewajiban yang serta merta harus dilakukan, karena sebagian besar aktivitas anak bersama orang tua atau kerabat dekatnya, bukan dengan sang ahli, sang ahli hanya lebih mendalami tentang dunia keahliannya, secara kualitas ya, tapi tidak secara kuantitas. Oleh karena itu, Ibu Iik menekankan bahwa perlunya orang tua bisa memberikan penanganan secara terpadu di rumah karena hal tersebut merupakan langkah awal yang baik, tentunya dengan pantauan terapis.
Apa saja alat dan bahan yang bisa digunakan untuk latihan sensori integrasi bagi anak?
Di WKCP ada berbagai macam alat yang mempunyai fungsi yang hampir berbeda, seperti papan keseimbangan untuk melatih anak dalam menyeimbangkan posisi tubuh, ayunan untuk merangsang genggaman gerakan otot tangan, bola terapi untuk melatih ketangkasan anak, panjat-prosotan untuk melatih ketangkasan kaki dalam menyesuaikan permukaan jalan, puzzle untuk melatih koordinasi sensori dan motorik, manik-manik untuk melatih keterampilan motoric halus anak serta mengasah keterampilan dalam meronce, dan sebagainya. Apabila anak di rumah tidak mempunyai fasilitas seperti diatas, orang tua dapat berkreasi sendiri, seperti menggunakan bantal guling sebagai pengganti bola terapi. Pada intinya adalah memberikan aktivitas yang mendukung proses perkembangan anak, sengan semakin banyak dan sering stimulus yang positif, semakin cepat anak mengalami perkembangan yang baik.
Bagaimana dengan anak yang belum bisa diarahkan (patuh), mereka masih suka asyik dengan dunianya sendiri?
Tentunya dalam memberikan aktivitas ke anak tidak langsung secara pasti harus dilakukan, kadang butuh penyesuaian bagi anak, seperti memberikan kesempatan anak bermain sendiri terlebih dahulu, kemudian diberikan arahan untuk latihan yang akan dituju. Apabila anak masih asyik dengan dunianya sendiri, perlu adanya aktivitas untuk mengalihkan perhatiannya, misal menggunakan benda kesukaannya.
Bagaimana dengan kebosanan yang melanda pada saat pelatihan ke anak?
Memang benar, dalam memberikan penanganan kepada anak cerebral palsy, hasilnya tidak langsung tampak, banyak anak yang membutuhkan proses yang diulang-ulang sampai 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, bahkan 1 windu. Hal tersebut memang diperlukan kesabaran yang ekstra, tetapi orang tua juga manusia biasa, pasti ada batasan dalam hal kesabaran. Hal yang perlu diperhatikan adalah banyak bahan dan kreatifitas yang bervariasi yang setidaknya dapat mengurangi rasa bosan, seperti hari ini adalah aktivitas meronce menggunakan manik-manik, sedangkan hari besok meronce menggunakan biji-bijian. Orang tua juga bisa melakukan eksperimen tersendiri, tentunya tidak lepas dari program yang saat itu sedang dilakukan.
Sumber : Adi Suseno





